Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Destry Damayanti, Senin 30 September 2013, mengatakan, pasar keuangan Indonesia harus mewaspadai apa pun keputusan yang akan diambil pemerintah Amerika pada 1 Oktober besok.
"Dampaknya akan terasa pada jangka pendek, market akan merespons negatif. Hari ini, pasar juga sudah terkoreksi," kata Destry di Jakarta.
Selain berdampak pada pasar keuangan, Destry memperkirakan terjadi pengetatan likuiditas dolar AS di negara berkembang. Kondisi tersebut akan turut menekan nilai tukar. "Karena, pemerintah Amerika akan berhati-hati terkait utang," ujarnya.
Dengan ketatnya likuiditas, dia menjelaskan, injeksi dolar berupa pembelian obligasi oleh The Federal Reserve juga akan berkurang. Kondisi tersebut akan berdampak besar bagi negara-negara yang selama memiliki ketergantungan dolar, termasuk Indonesia.
Akibatnya, menurut Destry, mata uang rupiah akan kembali tertekan. Apalagi, masalah defisit transaksi berjalan juga masih membayangi. "Mata uang kita susah untuk kembali ke level Rp10.000 per dolar," tuturnya.
Dia menambahkan, BI juga diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin. Namun, kebijakan itu untuk menjaga pertumbuhan kredit yang semakin tinggi. Saat ini, BI Rate dipatok pada level 7,25 persen.











_tn.jpeg)