Setelah dua minggu terpaku dengan kisruh politik di Washington, pasar
keuangan dunia kini bisa mengalihkan perhatian kembali ke kinerja
ekonomi sebagai acuan pergerakan.
Tapi menurut analis, pasar kemungkinan tetap tidak banyak bergerak
karena data yang datang akan diabaikan karena belum mencerminkan dampak
shutdown. Angka payroll September, kecuali bagus sekali (mendekati atau
sampai 200 ribu), kecil kemungkinan mengubah pandangan bahwa the Fed
belum bisa mengurangi stimulus moneternya tahun ini.
Dampak shutdown terhadap ekonomi AS memaksa the Fed untuk tetap
menjalankan program pembelian obligasi di $85 miliar per bulan. Menurut
survei Bloomberg, para ekonom kini memperkirakan taper tertunda sampai
Maret tahun depan.
Selain payroll AS, gambaran aktivitas manufaktur China bulan ini
diperkirakan juga akan menjadi sorotan pasar Asia minggu ini, beserta
data inflasi Jepang. Indeks PMI manufaktur China versi HSBC untuk
Oktober akan diumumkan pada Kamis. Para analis mengatakan data itu akan
dicermati oleh pasar untuk mencari petunjuk bagaimana kondisi ekonomi
terbesar kedua dunia itu di kuartal keempat.
Di Jepang, data inflasi yang akan diumumkan Jumat bisa memberi
gambaran seberapa jauh hasil upaya pemerintah mengentaskan deflasi.
Menurut proyeksi, inflasi inti naik 0,7% selama September dari tahun
lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar